Di tengah derasnya arus modernisasi, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menyimpan berbagai tradisi budaya yang mulai tergerus oleh zaman. Salah satu tradisi yang kini terancam punah adalah Tiban, sebuah seni tari ritual yang dahulu digunakan masyarakat untuk memohon hujan saat musim kemarau panjang.
Asal Usul dan Makna Ritual Tiban
Tiban merupakan seni tari tradisional yang dilakukan oleh dua pria dewasa dengan bertelanjang dada, saling cambuk tubuh mereka di tengah lapangan. Makna di balik darah yang keluar akibat cambukan dipercaya akan mendatangkan hujan. Ritual ini merupakan tradisi warisan raja Kediri yang terus dilestarikan oleh warga desa Trajak, Boyolali, Tulungagung, hingga saat ini.
Menurut Hariadi, seorang budayawan dari Kabupaten Kediri, seni tari Tiban ini hanya tersisa satu kelompok saja, yakni di Kelurahan Ngadiluwih. Ia menambahkan bahwa kesenian ini biasanya dipentaskan masyarakat saat hendak memohon hujan.
Peran dan Fungsi Sosial Tiban dalam Masyarakat
Selain sebagai ritual untuk memohon hujan, Tiban juga memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Kediri. Ritual ini menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan antarwarga, serta sebagai sarana hiburan dan pelestarian budaya. Melalui Tiban, nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan diajarkan secara turun-temurun.Kompas Nasional
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Affandy (2019), disebutkan bahwa kearifan lokal masyarakat Kediri tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk upacara adat seperti Tiban. Nilai-nilai budaya positif seperti gotong royong, saling menghormati, dan tepa salira menjadi inti dari tradisi ini. Ejournal Amirul Bangun Bangsa Publishing
Ancaman terhadap Kelestarian Tiban
Sayangnya, tradisi Tiban kini menghadapi berbagai tantangan yang mengancam kelestariannya. Modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat menyebabkan minat terhadap seni tari tradisional ini semakin menurun. Generasi muda lebih tertarik pada hiburan modern, sementara kesenian tradisional dianggap kurang menarik dan relevan.Kompas Nasional
Selain itu, terbatasnya jumlah kelompok yang masih melaksanakan Tiban juga menjadi kendala. Hal ini menyebabkan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan ritual ini semakin langka. Jika tidak ada upaya pelestarian, Tiban berisiko menjadi tradisi yang hanya dikenang dalam cerita lisan.
Upaya Pelestarian dan Harapan ke Depan
Untuk menjaga agar Tiban tidak punah, berbagai upaya pelestarian perlu dilakukan. Pemerintah daerah dan komunitas budaya dapat bekerja sama untuk mendokumentasikan ritual ini, menyelenggarakan pelatihan bagi generasi muda, serta mempromosikan Tiban melalui media sosial dan festival budaya.
Sebagai contoh, Pemerintah Kota Kediri telah berencana mengembangkan cerita Panji, yang diakui UNESCO sebagai “memory of the world”, melalui media digital, sehingga lebih menarik dipahami oleh generasi muda. Langkah serupa dapat diterapkan untuk Tiban dengan memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan informasi tentang ritual ini.
Tiban bukan hanya sekadar seni tari, tetapi juga merupakan warisan budaya yang mengandung nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat Kediri. Melalui upaya bersama, kita dapat menjaga dan melestarikan tradisi ini agar tetap hidup dan relevan bagi generasi mendatang.