Oleh: @sam_anindito
Tulungagung, sebuah kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur, dikenal dengan keindahan alamnya, serta ragam budaya yang kental dengan nuansa tradisional. Salah satu upacara yang masih dilestarikan oleh masyarakat Tulungagung adalah Ruwatan, sebuah ritual adat yang dilakukan untuk menjaga keharmonisan hidup dan menghindari berbagai malapetaka. Meskipun terdengar mistis dan sering dikaitkan dengan hal-hal gaib, Ruwatan memiliki akar yang dalam dalam kehidupan masyarakat Mataraman dan sekitarnya.
Asal Usul Ruwatan dan Filosofinya
Ruwatan merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk membersihkan diri dari pengaruh buruk atau roh jahat, yang dipercaya dapat mengganggu kehidupan seseorang. Upacara ini berasal dari tradisi masyarakat Jawa yang menganggap penting keseimbangan antara alam manusia dan alam gaib. Di dalamnya, terdapat berbagai simbolisme yang mengandung makna spiritual dan sosial, yang bertujuan untuk memulihkan keharmonisan hidup baik dalam aspek keluarga, kesehatan, hingga pekerjaan.
Dalam bukunya “Tradisi Jawa: Dari Suku-suku di Jawa Timur” (2015), Dr. Suparno, seorang ahli budaya dari Universitas Negeri Malang, menjelaskan bahwa Ruwatan merupakan bagian dari tradisi masyarakat Mataraman yang menggabungkan ajaran agama, adat istiadat, serta kepercayaan terhadap roh halus. “Ruwatan bukan hanya sekadar upacara untuk menghindari malapetaka, tetapi juga memiliki tujuan untuk menciptakan keseimbangan batin dan sosial dalam kehidupan,” ujar Suparno.
Upacara Ruwatan di Tulungagung, seperti di daerah Mataraman lainnya, tidak hanya dilakukan oleh individu yang merasa terganggu hidupnya, tetapi juga oleh keluarga atau komunitas yang ingin memperkuat hubungan sosial dan spiritual mereka. Di Tulungagung, Ruwatan sering kali digelar secara massal, melibatkan seluruh masyarakat di desa untuk saling mendoakan agar hidup mereka terhindar dari berbagai musibah.
Pelaksanaan Ruwatan di Tulungagung
Ruwatan di Tulungagung biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu Ruwatan Pribadi dan Ruwatan Massal. Ruwatan pribadi dilakukan oleh individu atau keluarga untuk tujuan tertentu, seperti untuk membersihkan diri dari pengaruh buruk atau penyakit. Sementara Ruwatan massal adalah upacara yang melibatkan banyak orang dalam satu komunitas atau desa, yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan sosial dan spiritual.
Salah satu ciri khas dari upacara Ruwatan adalah prosesi pemotongan rambut, yang dilakukan oleh seorang pemandhikan atau ahli spiritual. Pemotongan rambut ini dilakukan setelah peserta upacara melalui serangkaian doa dan ritual, yang dianggap dapat membersihkan mereka dari segala pengaruh buruk. Selain itu, dalam upacara Ruwatan massal, terdapat juga prosesi sesaji, yaitu pemberian makanan atau benda-benda tertentu kepada roh atau leluhur untuk memohon perlindungan.
Dalam wawancara dengan Bapak Joko Santoso, seorang tokoh adat di Desa Ngadirjo, Tulungagung, ia mengungkapkan bahwa tradisi Ruwatan sangat penting dalam menjaga keberlangsungan hidup masyarakat. “Kami menganggap bahwa dengan Ruwatan, kami dapat terhindar dari penyakit, malapetaka, atau bahkan masalah sosial. Ini adalah bentuk ikhtiar untuk menjaga keharmonisan,” ujarnya.
Upacara Ruwatan di Tulungagung sering kali diadakan di tempat-tempat terbuka, seperti halaman rumah atau lapangan desa, dengan latar belakang alam yang indah, termasuk pemandangan Gunung Kelud. Keberadaan gunung ini, yang juga dianggap sebagai tempat yang sakral, menambah kekhususan dari prosesi tersebut. Gunung Kelud, yang terletak tidak jauh dari Tulungagung, memiliki peran penting dalam banyak upacara adat di daerah ini, termasuk Ruwatan.
Makna Sosial dari Ruwatan di Masyarakat Tulungagung
Meskipun Ruwatan seringkali dikaitkan dengan hal-hal mistis, banyak masyarakat Tulungagung yang melihatnya sebagai sebuah bentuk ikatan sosial yang kuat antara anggota keluarga dan masyarakat. Dalam hal ini, Ruwatan menjadi lebih dari sekadar ritual spiritual; ia adalah sebuah sarana untuk memperkuat hubungan antarindividu dan komunitas.
Dalam bukunya “Sosial Budaya Masyarakat Jawa Timur” (2017), Dr. Purnomo Sutikno, seorang sosiolog, menulis bahwa upacara seperti Ruwatan memiliki peran penting dalam memperkuat solidaritas sosial dalam masyarakat. “Upacara adat ini bukan hanya untuk kepentingan individu, tetapi juga untuk kepentingan bersama. Dalam banyak kasus, upacara semacam ini sering kali mempertemukan berbagai pihak dalam suatu komunitas untuk bekerja sama dan saling membantu,” ungkap Purnomo.
Di Tulungagung, Ruwatan seringkali menjadi momen bagi warga desa untuk saling berinteraksi, mempererat tali persaudaraan, dan berbagi kebahagiaan. Upacara ini sering diiringi dengan berbagai bentuk hiburan tradisional, seperti pertunjukan wayang kulit atau gamelan, yang menambah keceriaan dalam prosesi tersebut.
Ruwatan dalam Perspektif Keagamaan dan Spiritualitas
Secara keagamaan, Ruwatan juga dilihat sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan dan leluhur. Meskipun banyak orang yang menganggap Ruwatan sebagai sebuah ritual yang penuh dengan mistik, bagi masyarakat Tulungagung, upacara ini memiliki makna yang sangat dalam. Sebagai masyarakat yang mayoritas beragama Islam, mereka melihat Ruwatan sebagai bentuk syukur dan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar diberikan perlindungan, kesehatan, dan keselamatan.
Menurut Ustaz Abdul Karim, seorang ulama di Tulungagung, Ruwatan dalam pandangan Islam adalah bentuk pengharapan kepada Allah untuk diberikan kehidupan yang lebih baik. “Meskipun Ruwatan memiliki banyak unsur tradisional dan budaya, kita harus selalu ingat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan adalah untuk mendapatkan ridho Allah. Dalam Ruwatan, kita berdoa agar segala kekurangan dan kesulitan dalam hidup dapat dihilangkan,” ujarnya.
Ruwatan dan Tantangan Pelestariannya di Era Modern
Meskipun Ruwatan memiliki nilai budaya dan sosial yang tinggi, pelestariannya menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah pengaruh globalisasi dan modernisasi yang mengarah pada perubahan pola hidup masyarakat. Di era yang semakin maju ini, banyak orang yang mulai meninggalkan tradisi-tradisi lama, termasuk Ruwatan, karena mereka lebih memilih cara yang lebih praktis dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Bapak Joko Santoso menyebutkan bahwa salah satu alasan mengapa tradisi ini mulai tergerus adalah karena generasi muda cenderung lebih tertarik dengan teknologi dan budaya pop yang datang dari luar. “Kami sudah mulai merasakan penurunan minat dari generasi muda untuk melestarikan tradisi ini. Namun, kami tetap berusaha menjaga dan meneruskan tradisi ini kepada anak-anak muda agar mereka tetap mengenal dan menghargai warisan budaya nenek moyang,” katanya.
Untuk itu, sejumlah upaya pelestarian perlu dilakukan, seperti memperkenalkan Ruwatan melalui pendidikan di sekolah-sekolah dan menggalakkan partisipasi generasi muda dalam acara-acara adat. Selain itu, penting juga untuk melibatkan komunitas dan pemerintah dalam upaya mendokumentasikan tradisi ini, sehingga tidak hilang begitu saja.
Kesimpulan
Upacara Ruwatan di Tulungagung adalah sebuah tradisi yang kaya akan nilai-nilai budaya, sosial, dan spiritual. Melalui Ruwatan, masyarakat Tulungagung tidak hanya berusaha menjaga keharmonisan hidup dan melindungi diri dari pengaruh buruk, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antara individu dan komunitas. Meskipun dihadapkan dengan tantangan zaman, upacara ini tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, yang akan terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang berharga. Melalui upacara Ruwatan, masyarakat Tulungagung terus menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, serta menghargai pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan dan leluhur.